Minggu, 18 Januari 2009

BERAWAL DARI SEBUAH CITA


PP. An-Nizhomiyyah Banten


Oleh: Agus Khotibul Umam

Tak seperti di Pasundan atau di Jawa, karakter pesantren sangat berbeda. Terutama di lihat dari keberadaan Kyai dan pesantren itu sendiri. Kyai Banten tampaknya kurang perhatian terhadap pengkaderan penerusnya. Sehingga sang Kyai wafat, pesantren yang di bangunnya juga ikut lenyap. Rupanya, sang Kyai jarang mendamba anak dan santrinya untuk menggantikan posisinya. Apalagi pesantren tradisional di Banten tak memiliki banyak santeri, sehinga tidak begitu menekankan kuantitas. Namun lebih pada kualitas. Selain itu, para Kyai pesantren tradisional di Banten ini sering di anggap menutup diri dengan arus perkembangan informasi. Sebab khawatir, kehadiran tknologi akan meruntuhkan nilai-nilai yang sejak dulu di tanamkan di pesantren. Benarkah demikian?


Benih An-Nizhomiyyah
Di tahin 1930, pada mulanya adalah cita-cita luhur seorang Kyai bernama Yusup Syamaun. Cita cita itu tentang membentuk Masyarakat yang memiliki ilmu agama, ketakwaan dan keimanan kepada Allah swt., dan bias memberi manfaat bagi yang lainya, sebagaimana ditentukan Nabi saw. Perlahan, cita-cita itu di wujudkan di tanah sempit berukuran kurang lebih 800 meter di kampong Jaha desa Sukamaju Kecamatan Labuan – Banten.
Di tanah itu lalu di bangun beberapa kobong (kamar-kamar asrama yang terbut dari anyaman bambu-red) berukuran 3x3 meter, yang di isi tiga atau empat orang. Para santeri yang mengisi kamar-kamar kecil itu berasal dari berbagai daerah sekitar Banten dan Lampung. Tak jauh dari tempat itu, di bangun masjid berukuran sederhana sebagai tempat santeri-santeri melakukan aktifitas rutin, seperti pengajian dan sorogan kitab kuning. Dengan penuh kesabaran dan ketekunan, sang kyai mengerahkan segala kemampuan dan pengetahuannya.
Pesantren itu tak bernama,sebab bagi sang pendiri,nama ataau sebutan tidaklah terlalu penting. Kesuksesan dan kemajuan santeri-santeri dalam meraih ilmu adalah hal yang paling di utamakan sang Kyai. Dan sang Kyai membuktikannya. Beberapa santeri yang di asuhnya menyebar di sekitar Banten dan melanjutkan cita-citanya.
Sepeninggal sang Kyai, aktifitas di pesantren perlahan tak berjalan. Satu persatu yang mukim meninggalkan pesantern. Kondisi itulah yang memotifasi putri sang Kyai, Hj. Siti Masitoh untuk meneruskan sang ayah mengelola pesantren bersama suaminya KH. Asnawi Sodiq. Dalam perjalanannya, mereka lebih focus kepada pendidikan formal hingga membangun sekolah Madrasa Wajib Belajar (MWB). Itulah cikal bakal yang kini berdiri kokoh di sekitar pesantren.

Bangkitnya An-Nizhomiyyah
Tahun 1963, KH. TB. Rafe’i Ali,menantu Hj. Siti Masitoh, melanjutkan pengelolaan pesantren. Ia berupaya membangun kembali apa yang telah di rintis pendahulunya.kemudian ia memberi nama PP. An-Nizhomiyyah. Nama ini di adopsi karena kekagumanya pada salah satu madrasah di Bagdad, Nizamiyyah yang di dirikan Wazir Nizam al-Muluk. Di mana salah satu filusuf besar Islam, Al-Ghazali ra. Pernah belajar di sanah dan menjadi guru besar (1090) di Madrasah itu.
Tak seperti di psantren modern dan tradisional kini, PP. An-Nizhoniyyah tidak menganut modal manajemen system.pesantren ini tidak ada struktur kepemimpinan yang pasti. Tak ada ceritanya, Kyai merasa diri pemilik dan pengusa pesantren. Kyai hanya menjadi pendamping dan pembimbing santeri-santeri, dan meminta mereka mengatur diri sendiri serta turut bertanggung jawab pada pesantren yang di tempatinya.
Sampai sekarang, ada dua aktivitas rutin yang di jalankan di PP. An-Nizhomiyyah. Pertama, aktuvitas pengajian untuk para santeri. Pengajian setelah shalat Ashar ini membahas kitab-kitab dasar seperti Jurumiyyah, Awamil, Imriti, Matan Bina, dan Kailani, yang di bimbing para ustadz dan ustadzah. Setelah shalat isa’ santri-santri juga belajar kitab-kitab lain, seperti Alfiah, Fathul Muin, dan Jalalain, yang di pimpin langsung oleh pimpinan pesantren. Setiap kamis malam di adakan pula Muhadorohan, sebuah ajang bagi para santri meningkatkan kemampuan orasi/ pidato.
Kedua aktuvitas pengajian untuk umum. Pengajian ini dilaksanakan setiap malam jumat. Pengajian mingguan ini di hadiri masyarakat sekitar dan luar pesantren. Biasanya yang di kaji kitab tasauf seperti Minhajul Abidin karangan Al-Ghazali dan Tafsir Munir karangan imam Nawawi. Selain membahas kitab tersebut, Kyai yang memandu pengajianpun membahas persoalan-persoalan yang tengah di alami masyarakat.

***
Sejalan dengan tuntutan perubahan, KH. TB Rafe’i Ali bersama saudaranya H. Saefudin Asnawi bersama-sama mendirikan madrasah yang sudah di rintis pendahulunya. Pada tahun 1964, di pesantren ini berdiri madraah Ibtidaiyya, yang kini siswanya berjumlah 135 anak. Lalu 1965 di dirikan madrasah Tsanawiyah, dan sekarang siswanya 376 anak. Menyusul tahun 1975 di dirikan madrasah Aliyah, dengan siswa 220 siswa. Tahun 2000 berdiri taman kanak-kanak dengan siswa 75 anak. Madrasah tersebut, kesemuanya berada dalam naungan Yayasan Syekh Yusuf Samaun. Tahun 2002 di pesantren ini juga pernah berdiri sekolah tinggi Islam, tapi pada perjalananya ia kandas di tengah jalan.
PP. An-Nizhomiyyah kini juga mengembangkan pendidikan ekonomi masyrakat melalui lembaga Banten Learning Center (BLC). Lembaga ini beberapa kali mengadakan seminar bertema pendidikan dan pelatihan computer untuk masyrakat, setiap Minggu, lembaga ini mengadakan pemutaran film edukatif untuk santri dan masyarakat, seperti Denias, Narnia, Freedom Writers, Ron Clark Story dan Laskar pelangi. Selain itu, juga mengadakan diskusi tentang pedidikan, ekonomi, politik, dan kemasyarakatan seminggu sekali, yang di ikuti santri-santri, mahasiswa dan guru-guru di lingkungan pesantren. Di luar itu, lembaga ini pun mengembangkan unit usaha santri dan masyrakat.
Seiring perkembangan teknologi dan informasi, pesantren ini di percaya oleh International Center for Islam and Pluralisem (ICIP) menjalankan program Open Distance dan E-Learning (ODEL). Program ini selain untuk meningkatkan partisipasi masarakat dalam pendidikan, juga menjembatani hubungan antara pesantren dan masyrakat. Dalam program ini, pesantren mengadakan pendidikan geratis (setara paket B dan C) bagi masyarakat yang tidak mampu dan tidak berkesempatan melanjutkan sekolah formal. Kini, dengan program ODEL, santri dan masyrakat meperoleh banyak manfaat lagi tentang teknologi dan internet.
PP. An-Nizhomiyyah selalu menjalin kerjasama dengan berbagai kalangan. Selain pernah menjadi tuan rumah kegitan “ Live in Pemuda Lintas Iman”, pesantren ini pun mendapat kunjungan 15 calon pastur dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Tiap usai Idul Fitri,pesantren ini selalu di kunjung ordo Katholik. Ini menunjukan, pesantren ini sangat membuka pintu kepada siapa pun, termasuk kepada umat non-Muslim.
PP. An-Nizhomiyyah juga seringkali menjadi tempat pengaduan bagi perempuan Korban kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Sebab Kyai di sini turut pula menekankan pentingnya menghormati hak-hak kaum perempuan. Tidak ada pemisahan kelas maupun pengajian disini. Mereka senantiasa menumbuhkan iklim diskusi di kalangan santri-santri baik laki-laki maupun perempuan. Meski telah menghasilkan ribuan alumni, PP. An-Nizhomiyyh hingga kini masih terus berbenah diri.


Dimut juga di Swara Rahima
Media Islam untuk Hak-Hak Perempuan.

Senin, 01 September 2008

Ketidak Berhasilan Pendidikan

  • Oleh : Aang Jalaludin

Pengalaman ini saya harap cukup saya yang mengalami. Dimana setiap orang berlibur menginginkan kepuasan berliburnya dengan bersenang senang, akan tetapi yang saya alami sebaliknya.

ketika saya berlibur bersama siswa-siswi mading ke sutu tempat yang bernama pemandian Ci Taman, baru beberapa detik menghirup udara di sana, seseorang mendekati saya. Dia menawari karcis yang jumlahnya tak seberapa. Kemudian saya bilang " nanti dulu bang kami kan rombongan biar nanti bayarnya sekalian "karna menurut saya lembaran karcis itu tidak begitu penting dan saya langsung kembalikan kepada orang itu entah kenapa orang itu enggan menerimanya. saya kira lembaran itu dia sudah tidak membutuhkan kembali. dengan santai selembar kertas itu terbang ke permukaan bumi. Pada saat itu pula wajah cerah saya berubah seketika dalam hati saya habislah sudah riwayat saya yang mana penduduk setempat terkenal dengan keserempakanya tak pandang bahwa mereka berada di pihak salah. kurang lebih sepuluh meter saya di seret oleh peuda itu, anehnya sedikitpun tak ada kaku dalam geraku. Aku sempat berfikir " ya Tuhan seandainya cara seperti ini jalan kematian saya, saya siap menerimanya" alunan ini pula yang membut saya tak ragu lagi. siswa-siswi bergetar melihat saya berada di tengah kerumunan orang yang haus kekerasan itu. Maklum mereka baru kelas I MTs panik dan gelisah tergambar pada wajah mereka, wajah-wajah semula cerah berubah seketika, di tambah keberanian orang itu membentak guru kami sambil menunjuk-nunjuk kemkua beliau. Karena hanya beliau pembimbing kami yang ikut pada liburan ini saya rasa beliau bukan pengecut hanya jumlah mereka terlalu banyak dan beliau anti kekerasan. Saya hanya menunggu keajaiban yang datang dari Tuhan atas keselamatan saya. Ternyata Tuhan masih memberi kesempatan kepada saya sehiga saya dapat kluar dari cengkraman mereka tanpa kekerasan. Ada sebuh ucapan yang membut saya penasaran dia berkat " seratus orang pun yang saya bawa dia siap menghadapinya sendiri " Padahal keberanian orang sana hanya pada saat mereka kumpul-kumpul, perbuatanya yang belum lupa dari ingatan saya ketika dia menyeret saya dengan di ikuti teman-temanya yang menunggu komando untuk menghajar saya.

Ya Tuhan untuk menghilangkan tragedi ini dari benak saya, apakah saya harus membalasnya dan apakah balasan nanti akan membuat saya puas? atau menunggu waktu untuk membalasnya.

Minggu, 31 Agustus 2008

Ciptakan Budaya Islam

Oleh : Aang Jalaludin

Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, santri pondok pesantren Annizhomiyyah mengadakan jalan santai dengan rute kurang lebih tiga km.
Hal ini patut menjadi sejarah di seluruh Dunia, karena seumur saya hidup di Dunia ini, baru kali ini saya ikut pawai dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan. Biarpun jumlah kami tidak begitu banyak, kami tetap semangat. Dangan tabuhan kentongan tetrbuat dari bambu, serta di barengi bacaan Sholawat Badhar yang serempak. Masarakat pun tertarik dengan aksi kami sehingga yang berada di dalam Rumah pun keluar Rumah untuk melihat kami. Karena jalan yang kami lalui cukup di padati kendaraan yang habis munggahan ( kegiatan yang menjadi budaya oleh sebagian Musalim yaitu makan bareng keluarga atau teman-teman) tidaqk sedikit diantara pengendara yang mengacungkan Jempol kepada kami. Karena kami berjalan terlalu sore sehingga kami kejebak magrib di perjalanan dan kami pulang pada saat hari sudah larut malam.
Saya berharap penyambutan Ramadhan dengan cara seperti ini agar menjadi kebudayaan umat Isalam karena muslim di indonesia terbalik. Coba kita lihat pada saat penyambutan tahun baru masehi hampir separuh Muslim Indonesia sibuk merancang acara.

Selasa, 26 Agustus 2008

MENCOBA SOSIALISASI

Pelajar Madrsah Aliah Anizhomiyyah sedang membuat perubahan dinding kelasnya. dengan cara bergotong royong di kelas II MA, diantara nama-namanya Jalaludin, Jamaludin, Sidik, Usep, Muhadi dan yang lainya. Kami ingin yang terbaik buat kami, termasuk lingkungan kami, yaitu tempat belajar kami. Sebenarnya, apa yang sekolah berikan sudah lebih dari cukup buat kami, deng fasilitas yang memadai dan lain sebagainya. Apalagi biyayanya sangat terjangkau, kalau gak salah sepruhnya dengan sekolah lain, yang ada di kabupaten Pandeglang.

Sabtu, 23 Agustus 2008

Biar tua tetap belajar

Oleh : Aang Jalaludin
Kegiatan pondok pesantren Annizhomiyyah selain kegiatan pengajian Santri, juga ada pengajian ibu-ibu. Setiap hari jumat setelah Sholat jumat ibu-ibu memenuhi majlis pondok pesantren Annizhomiyyah. ibu-ibu pengajian ini di pimpin oleh Hj.siti Hindun istri pengasuh pondok pesantren Annizhomiyyah, abah KH.Tb.A. Rafe'i Ali. Dengan serius ibu-ibu melantunkan Ayat-Ayat Allah serta serempak. Dari awal sampai akhir ibu-ibu dengan rapih mengikuti pengajian sampai selesai. ibu-ibu ini datang dari berbagai kampung, Desa dan Kecamatan. Pada pertengahan pengajian abah KH.Tb.A. Rafe'i Ali memberikan tausih kepada ibu-ibu dengan di akhiri pembacaan do'a.

Selasa, 19 Agustus 2008

Keceriaan Santri di karnafal


Oleh : Aang Jalaludin

Pada hari minggu tepat pada tanggal 17 Agustus 2008 Pondok pesantren Annizhomiyyah mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih di lapangan jendral Achmad Yani Labuan.Setelah selesai di daerah kaimi (Labuan) mengadakan karnaval, mengelilingi kota Labuan. Beragam kebolehan di pentaskan oleh para siswa dari setiap sekolah, juga tingkat umum juga ikut memeriahkanya termasuk Santeri Annizhomiyyah.dengan memakai kostum yang serba aneh dan lucu di pentaskan di sini, seperti banci,badut dan lain-lain di perton-tonkan.saat itu penonton memenuhi sepanjang jalan yang di lintasi oleh peserta.

Akan tetapi para santeri Annizhomiyyah sangat beda dengan yang lainya,kami merayakanya seakan akan kami berdemo di depan gedung DPR. Kami memakai kostum seadanya yang biasa kami pakai sehari-hari. Tidak seperti yang lain yang di hiasi dan mencoreng mukanya. Serbenarnya kami bukan tak pandai untuk membuat hal semacam itu, tetapi kami ingin menggambarkan keadaan di daerah kami (Pandeglang) dengan alat-alat yang kami bawa yaitu yang biasa kami pakai sehari-hari seperti alat memasak nasi, alat menggoreng dan alat membakar ikan terus kami membawa sepanduk yang bertuliskan diantaranya kami mengharapkan kembalinya kota Pandeglang menjadi kota santeri bukan kota KORUPSI yang mana pada saat ini pemerintah pandeglang di antaranya ada yang korupsi terus kami mengharapkan jangan mengajari kami kebohongaan, mengharapkan kepada pemerintah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyrakat (Give service better for society),jangan jadikan Islam sebagai kendaraan POLITIK, kami tidak ingin pemisahan kelas kami ingin pendidikan yang humanis dan mencerdaskan,Islam bukan warna hijau, Kami tidak butuh tunjangan 100.000 untuk pernikahan, kami tidak butuh uang kematian(We Need Your Service Better For Education,We Need Your Honesty,We Dont Need Your Money) dan "Arrosi walmurtasi fin'nar" yang artinya orang menyuap dan yang di suap masuk NERAKA.

Di pejalanan seorang santeri sebagai komando pasukan membacakan sepanduk, kemudian di ikuti oleh yang lainya dengan serempak, derngan sebutan "betul" melihat keadaan kami yang seadanya. Ternyata banyak masyrakat yang mendukung, apalagi ketika melihat tentengan kami, yaitu alat-alat masak yang bertahun-tahun tak pernah di cuci. Masarakat tertawa dengan berbahak-bahak, sampai ada yang bilang "terus semangat agar pemerintah pandeglang mendengar" keadaan berubah setelah kami di depan panggung yang di duduki oleh Camat kecamatan Labuan, yaitu Encep Suryadi. Kami behenti dengan melihatkan sepanduk kedepanya. Pada saat itlah Pak Agus KH bebicara di tengah kerumunan masyrakat dan Camat. Beliau betrkata "saudara-saudara sekalian sebenarnya kita belum merdeka, kita masih di jajah oleh Amerika,Jaepang dan bahkan kita dijajah oleh pemetrintah kita sendiri, kita tidak sadar kita telah di bohongi oleh mereka.... Pada saat itu Camat hanya diam kaku melihat aksi kami. Setelahitu kami bubar.

Minggu, 03 Agustus 2008

PONDOK PESANTREN

PONDOK PESANTREN AN-NIZHOMIYYAH

RUMAH BAGI SEMUA YANG BERBEDA

Pondok pesantren an-nizhomiyyah didirikan di kampung jaha desa suka maju,
Labuan, pada tanggal 1930 dikampung ini sudah erdiri sebuah pesantren, tapi nama pesantrn itu tidak jelas di ketahui. Hal ini dikarnakan Sebuah pesantren bagi sang kiai tidaklah terlalu penting. Pesantren itu sendiri dikelola oleh KH. Yusuf syanmaun dan dihuni kurang lebih 200 santri dari beberapa daerah di banten dan uar banten. Beberapa diantaranya berhasil menguasai ilmu agama, menjadi kiai dikampungnya masing-masing.
Sayangnyasetelah KH. yusuf syamaun wafat, aktivitas di pesantren tersebut
Berhenti. Satu persatu satrinya meninggalkan psantren, yang tesisa hanya
Kobong (kamar santri) yang beserakan. Sepeninggal KH. Yusuf syamaun,
Pesantren ini dteruskan dan dikelola oleh anaknya HJ. Siti masitoh dan
Menantunya KH. Asnawi sodiq. Tetapi mereka tidak bias mengulang kesuksesan
Seperti yang telah diraih oleh KH.yusuf syamaun, tidak ada santri yang menetap.
Pada 1963, KH. Tubagus rafe’i ali, menantu HJ.siti, melanjutkan pengelolaan
Pesantren. Ia membenahi dan meminpin peantren. Ia (KH.TB.rafe’I ali) pun memberi nama pesantren AN-NIZHOMIYYAH nama pesantren ini diadopsi
Sala satu madrasah di Baghdad, nijhamiyah (didirikan oleh wazir nizam al-mulk)
Di mana sala satu filsuf besar ISLAM al Ghazali pernah duduk di bangku madrasah nizhamiyah dan menjadi guru besar (1090 M)di madrasah itu.